Minggu, 09 Januari 2011

Umrah via HongKong by Cathay Pacific USD 1750



Whoops! Kebaikan ga boleh ditunda-tunda, brur! Ayo ikutan Paket Umrah, berangkat dari Surabaya, transit di HongKong selama 12 jam. Satu paket seharga USD 1750 (sekamar 4 orang).

Untuk Info lengkap, hubungi Nurul di 031-6075 5657 atau 081 330 185 086 atau 031-870 3187, limited seat.

Itinerary-nya:

Surabaya – HongKong

Dua jam sebelum keberangkatan, diharapkan sudah ngumpul di Bandara Internasional Juanda, memulai perjalanan dgn transit dulu di HongKong

Tiba di HongKong menginap di Hotel transit selama 12 jam. Jadi, bisa jalan-jalan dulu keliling HongKong selama kurang lebih 6 jam, dan sisa waktu digunakan untuk istirahat di Hotel


HongKong - Jeddah

· Tiba di Jeddah, melanjutkan perjalanan ke Medinah

· Tiba di Medinah, check in di Hotel untuk beristirahat

Madinah

· Setelah sholat subuh, sarapan, jamaah berziarah ke makam Rasulullah/ Raudhah, yang berada di lokasi Masjid Nabawi Madinah.

· Memperbanyak ibadah

Madinah-Mekkah

· Setelah Sholat Subuh, sarapan, jemaah melaksanakan ziarah ke Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun Rasulullah SAW. Lalu ke Masjid Qiblatain, Jabal Magnet, Sab’ah, Jabal Uhud, dan Pasar Kurma

· Melanjutkan perjalanan ke Mekkah, kita berhenti sejenak di Bir Ali, untuk ambil MIQOT, untuk Umroh

Mekkah

· Memperbanyak ibadah di Masjidil Haram

Mekkah

Memperbanyak ibadah di Masjidil Haram

Mekkah

Setelah sholat Subuh, Jamaah berziarah ke Padang Arafah, Jabal Rahmah, Mina, Muzdalifah. Kemudian ke Masjid Ji’ronah untuk ambil MIQOT dan mengerjakan umrah kedua

Mekkah – Jeddah

· Melaksanakan Thawaf Wada’ dan Sholat Dhuhur

· Berangkat ke Jeddah, tiba di Jeddah Citi Tour

· Berkunjung ke: Laut Merah, Mesjid Terapung, Balad & Corniche Shopping Center

Jika Engkau Berangkat Haji....


"Jika Engkau Berangkat Haji....

Kosongkanlah hatimu dari segala urusan dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu pada Penciptamu.

Bertawakkallah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu.

Berserahdirilah pada semua ketentuan-Nya, semua hukum-Nya, dan semua takdir-Nya."

"Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk.

Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk.

Janganlah bersandar pada bekal, kendaraan, sahabat, kekuatan, kemudaan, dan kekayaanmu."

"Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi.

Bergaullah dengan baik.

Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan sunnah Rasul, yaitu berupa adab, kesabaran, kesyukuran, kasih sayang, kedermawanan, dan mendahulukan orang lain sepanjang waktu.

Bersihkan dosa-dosanmu dengan air tobat yang ikhlas."

"Pakailah pakaian kejujuran, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah.

Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan-Nya dengan ikhlas, suci, bersih dalam doa-doa kamu seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh."

"Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu."

"Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah, dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat."

"Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjidilharam. Berputarlah di sekitar Baitullah dengan sungguh-sungguh mengagungkan Pemiliknya dan menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ber-istilam-lah kepada Hajar Aswad dengan penuh keridhaan atas ketentuan Allah dan kerendahan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau melakukan tawaf perpisahan. Sucikan rohmu dan batinmu untuk menemui Dia, pada hari pertemuan dengan-Nya ketika kami berdiri di Safa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwa."

*Nasehat Ja'far Ash Shadiq, sufi besar keturunan Rasul.

Merindukan Haji (Sebuah Munajat dari Kitab Mafatihul Jinan)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Sampaikan sholawat kepada Rasulullah saw dan keluarganya

Ya Allah, karuniakan padaku kemampuan untuk menunaikan ibadah haji sebagaimana Kau wajibkan kepada orang yang mampu. Karuniakan padaku pembimbing dan penuntun menuju padanya. Dekatkan bagiku perjalanan yang jauh. Dan bantulah aku agar dapat melaksanakan semua manasik haji secara sempurna.

Dengan ihramku selamatkan tubuhku dari api neraka
Dalam perjalananku karuniakan padaku tambahan kekuatan pada tubuh dan kulitku

Ya Rabbi
Karuniakan padaku kesempatan untuk wuquf di hadapan-Mu dan bersandar hanya kepada-Mu. Anugrahkan padaku keberuntungan dengan limpahan karunia-Mu

Ya Rabbi
Berangkatkan daku dari tempat haji akbar (Padang Arafah) sampai ke Muzdalifah, Masy‘aril Haram. Jadikan semua itu wasilah untuk mendekatkan diri pada rahmat-Mu dan jalan menuju surga-Mu

Karunikan padaku kesempatan untuk wuquf di Masy‘aril Haram, dan di tempat perjalanan ruhani saat wuquf di Arafah. Karuniakan padaku kemampuan untuk melaksanakan manasik haji, memotong binatang korban sesuai dengan perintah-Mu, dan keutamaan yang kebaikannya telah Kau tetapkan.

Ya Allah, karuniakan kekuatan untuk melakukan shalat Idul Adhha. Agar aku menjadi:
orang yang mengharap rahmat-Mu yang telah kau janjikan
orang yang takut pada siksa-Mu yang telah Kau siapkan
orang yang mencukur dan memotong rambutku
orang yang bersungguh-sungguh dalam mentaati-Mu, mengharap rahmat-Mu, dan melempar jumrah.

Ya Allah

Masukkan aku ke halaman rumah-Mu dan ampunan-Mu, perlindungan-Mu dan Ka’bah-Mu. Jadikan aku tergolong pada orang-orang yang butuh kepada-Mu, bermohon kepada-Mu, dan menyampaikan semua hajatnya pada-Mu.

Ya Allah

Karuniakan padaku limpahan pahala-Mu setelah kulakukan manasik haji dan pada hari ketiga belas Dzul-Hijjah.

Ya Allah

Tutuplah kesudahan manasik hajiku dan semua permohonanku dengan penerimaan dan kasih sayang-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi

Kemanakah Dikau Wahai Nyamuk Pers? (2)



Ini masih kelanjutan kisah pertemuan gw dengan para nyamuk pers di Madinah.
Sebenernya gw pengin tereak histeris, "Aiiiihhhh.... Mas2 wartawan!!!" but, eniwei, salah satu kode etik jamaah haji adalah : Dilarang Lebai & menjadi Drama Queen.

Ya sutralah.

Setelah obrol sana-obrol sini, gw baru nyadar kalo jalan pulang yang kudu kita tempuh menuju Hotel di Madinah adalah, sekitar 2 kilometer. Ini, dengan kondisi perut yang blom keisi. Nah, demi menyaksikan seonggol mobil yang bertengger di dekat para journo, aku ambil inisiatif dengan...
"Mas, ada berita bagus di maktab gw, mau gak?"

Takbir dari TVOne kliatan tertarik. "Berita apa, Mbak?"
"Jadi, di Hotel tempat jamaah KBIH Nurul Hayat, kemaren digelar tahlilan. Usut punya usut, ternyata, salah satu jamaah asal Medan yang juga stay di ntu hotel, meninggal dunia. Story-nya tragis banget mas. Pas almarhumah naik taxi berdua ama suaminya, eh, si sopir taxi pura2 mobilnya mogok. Trus, dia nyuruh si suami untuk ndorong taxi. Ndilalah, si suami ntu turun sendirian, dan istrinya teteup ditinggal di taxi. Yang terjadi kemudian adalah, Brmmmm... taxinya ga mogok sama sekali, dan si istri dibawa kabur dah."

"Trus?"
Ah, Takbir mulai tertarik neh. "Trus, si istri hilang selama 4 hari-an gitu. Dan pd hari kelima, istri ditemukan tewas di tempat penyembelihan kambing."

"Wah, berita bagus tuuhh..."
"Nah, makanya, ayo ke hotel kita, daku bareng naik mobilnya, ntar kita kasih tahu dehh..."

Gw tersenyum penuh kemenangan. Hehehe... dapat tumpangan gretooonggg... Lumayan....
"Tapi mbak... kameraman saya kagak ada..."
"Ya udah, mas aja dong... pakai handycam..."

"Saya gak bawa handycam..."
Gubrak! Bigimana seeh? Wartawan tipi, dikirim ke belahan bumi lain, dan gak bawa "istri kedua"? Huh. Heloooo Pak Karni Ilyasss...

Akhirnya, segala bujuk rayu gw gak mempan blasss... dan, jadilah, dengan perut yang dangdutan-keroncongan, kita menyusuri Madinah, untuk balik ke Maktab.

Ngiiiiiiiikkk, gak jadi histeris ketemu journo, deh, hehehehe....

Kemanakah Dikau Wahai Nyamuk Pers? (1)



Jutaan orang tumplek blek di Mekkah, selama Musim Haji. Mestinya nih, ratusan jurnalis dari beragam penjuru dunia juga nangkring di tanah suci. Anehnya, sampai hari2 terakhir gw di Mekkah, tidak sekalipun gw ketemu ama makhluk berjudul wartawan di sono. Pun, tak kujumpai media center atawa press room di sekujur bodi Masjidil Haram.

Nnaah... ketika gw tengah sa'i di antara safa-marwah, ada seorang bapak2 yang rasanya gw kenal dan familiar banget yak... sapa ya....
"Ya Allah... Pak Tofan ya?"
"Nurul yaa?"

Hwaaaa... kita beneran kaget sekaget2nya. Pak Tofan --nama lengkap doi: Tofan Mahdi-- adalah (mantan) Redaktur senior di Jawa Pos. Gw kenal dia manakala gw masih mengais rupiah di perusahaan raksasa yg ber-head quarter di Sby. Sekarang, Pak Tofan menjadi profesional di Astra Jakarta (*slrppp! Pengeeeennnn....) Sementara gw, ketika ketemu beliau di Arab, masih berstatus sbg amil zakat LMI yang udah anacang2 buat resign :-)

Kami sempat ngobrol sekejap. Dan poto2an (*yang ini is a must!*)

Eniwei, walopun gak ketemu wartawan tulen, at least, gw ketemu (mantan) wartawan hebat lahh, heheheh....

Dan, ternyata Tuhan kabulkan obsesi-ambisi gw buat ketemu jurnalis (beneran) di Madinah. Jadi, waktu itu, dengan berbekal cacing2 di perut yang meronta2 minta upeti, gw bersama beberapa bolo plek menyusuri jalan di sekitaran Masjid Nabawi. Destinasi kami? AL-BAIK fried chicken yang berjarak sekitar 2 kilo-an lah. (*jamaah haji mental kuliner membara*)

Setelah nyangking ayam goreng yummy, gw ngeliat dua gelintir manusia yang dari tampangnya nih, Indonesia bangedd... Tapi, kalo dari kostumnya siih, bukan jamaah haji biasa, alias petugas haji, yang kemungkinan besar mahasiswa dari Mesir atau dari Arab.

Dasar iseng, gw sapa mereka, "Assalamualaikum..."
Dan, mas2 ini juga gak kalah iseng, "Waalaikumsalam... jamaah dari mana?"

"Dari Surabaya mas...Mas2 ini petugas dari Mesir ya?"
"Bukan, saya wartawan... saya Takbir dari TVOne dan ini temen saya dari MNCTV.."

Oucchhhhhh!!! WARTAWAN, sodara-sodara!! WARTAWAN!!! *jingkrak2 pakai pom-pom*

Sumpah, gw ngerasa hepiiiii bangettt... lebih hepi ketimbang menang undian satu milyar *yeah, soalnya blom pernah menang undian segitu seehh*

Sedetik kemudian, rasa lapar yang tadi melilit perut hengkang entah ke mana. Yang ada, kita sibuk ngobrol sana-sini, soal haji, Masjidil Haram, Nabawi, dll-nya...

Aiiiihhh... ketemu wartawan kok ya seperti ketemu pacar lama...
Bwahahahahaha.....

Journo vs Amil Zakat




Yang ini wujud kecintaan gw akan 2 profesi yang sempat gw geluti.

Pertama, sbg (eks) wartawan Jawa Pos, dan SCTV. Manakala gw ngeliat bangunan segede gaban yang nancap di radius 200-an meter dari Masjidil Haram, dan bangunan itu memancarkan sinar ijo royo-royo bertuliskan "Saudi Post", then gw ngerasa... ouch! It's Mass Media! Ini dunia gw bangettt...

Dengan semangat membaja, dan derajat malu yang mencapai titik nadir, gw masuklah ke gedung ntuh. Dan, sodara-sodara.... sotoy is my middle name... Saudi Post bukanlah sebuah redaksi koran atau media berpengaruh di negeri Arab, melainkan....
............ KANTOR POS! (&(^&%^$^%*((**&)

Kecewa banget. Huh.

Tapi, ketimbang ngomel gak jelas, mendingan gw beranjak utk menjiwai profesi gw berikutnya, yakni amil zakat.

Dan udah jadi keseharian gw untuk mrono-mrene cari donasi, either zakat, infaq, wakaf, dll.
Biasanya nih, kami2 para amil zakat yang (semoga) diberkahi Allah ini, nungging di expo something di venue yang asoy geboy, such as: Gramedia Expo. Dan, naluri SPG ini, tersalurkan, manakala gw ngeliat ada booth nganggur di depan Saudi Post. Dan, segambreng brosur qurban, dll, nangkring di booth tsb.

Yihaaaa... jauh-jauh ke Arab, eh, ujung-ujungnya teteup jaga outlet :-)

Sabtu, 08 Januari 2011

Sakit di Indonesia, Sehat di Arab




Yang ini tentang pasangan suami istri (pasutri) yang gw kagumi sepanjang masa.
Yang laki, bernama Om Ruslan, adik kandung ibu gw.
Yang perempuan bernama Mbak Tety.

Tahun 2010 adalah tahun berat buat mereka berdua.
Om Ruslan bolak-balik opname & bersilaturahmi dgn para dokter, lantaran penyakit jantung-paru-paru-liver dst yang menimpa dia. Maklum, om gw adalah (mantan) perokok berat. *Kill your cigarette, NOW!!!!*

Sementara itu, istrinya juga menderita penyakit yang ga kalah serem: Tumor Payudara!
Mbak Tety baru aja menjalani operasi pengangkatan payudara di sebuah rumah sakit yang cukup nguras dompet, rekening, deposito, dan menimbulkan riak2 utang baru di kehidupan mereka berdua.

Tapiiii...
Biarpun punya penyakit 'serem-nyaris-hopeless' seperti itu, mereka teteup keukeuh berangkat haji tahun ini.

Daaaannn, aku ketemu om-tanteku tersayang itu di Masjidil Haram, persis ketika mereka selesai thowaf sunnah.
Byuuuh... mbak Tety tampak sumringah abiiisss... enggak nampak guratan "Hey, gw baru operasi tumor loh, wajar dong kalo gw males2an pas ngerjain ibadah?" di tampang kiyutnya.

Omku juga gak kalah asoy. Thowaf 7 putaran dia lalui dengan easy going, enjoy, gak pakai kursi roda, cuy!

Hohoho... dan, ini yang paling 'ajaib'... omku tuh responsif banget sama kondisi sekitar. Jadi, pas kita lagi asyik haha-hihi di dalam area masjid, ada orang India yang mendadak muntah. Yaiikksss... jijik bangett kan?

Kebanyakan orang pasti menghindar dong yaa...
Tapi, omku malah think and action di luar kebiasaan umum...
Yang beliau lakukan adalah:
(1). Manggil petugas kebersihan masjid
(2). Menghadang org2 yang mau lewat di area yang terkena muntahan ntuh org India
(3). Ngasih tip ke petugas kebersihan, karena udah mau ngepel muntahan orang yang jelas-jelas gak ada hubungannya dgn omku!

Om....
Mbak Tety....
Yakin deh, ibadah Haji kalian insyaAllah mabrur semabrur-mabrurnya...

Sampai kapanpun, lo berdua ada di hati gw...

Susu Onta? Yaikkksss....




Gw gak doyan susu.
Gw cuman terpaksa minum susu, manakala gw mengandung Sidqi anak gw.
"Susu penting buat pertumbuhan anak ibu..." begitu petuah dokter kandungan gw.

Ya sutralaahhh...
sembari mejet idung--eneg liat & nyium bau susu--gw merelakan kerongkongan gw digerojogi cairan yang 'enggak banget' ntuh.

Dan, sekarang, pas perjalanan menuju Masjid Hudaibiyah dan Kota Mekkah, kami bercokol di sebuah padang nan tandus, yang punya judul "Tempat Pemerahan Susu Onta".

Ngeliat onta dgn punuknya aja udah bikin gw il-fil. Lah, ini, disuruh minum susunya? No, Thanks dah!

Walhasil, ibu gw yang justru semangat utk beli susu seharga 5 real/botol. Gw sih poto2an aja. Hehehe.

Yang gw agak heran adalah, di salah satu buku gretongan yang kita dapetin pas di Arab, ada artikel, dimana "Makan Daging Onta" membatalkan wudhu. Lah, kalo minum susu onta, apa kabar yak? Ngebatalin wudhu, atau kagak?

Ada yang bisa ngejawab?

Emak tak Gajian 15 Tahun....



Namanya Aswati. Ngakunya sih, berumur 64 tahun. Saban orang yang ketemu dia kerap menyebutnya "Emak". Panggilan yang bisa jadi bermakna "ibu", dan bisa juga bermakna "rewang" alias pembokat.

Ternyata, Aswati emang beneran seorang 'ibu' yang berprofesi sebagai 'pembantu rumah tangga'.

Dan, Bu Aswati berhaji bersamaku, satu kloter dan satu bimbingan manasik di KBIH Nurul Hayat.
Hah?? Mana mungkin, pembokat bisa naik haji??

Hmm, nothing is impossible, kawan...
Beneran, story bliau malah lebih 'berdarah-darah' tinimbang film dus novel 'Emak Ingin Naik Haji' yang full nguras tandon air mata ntuh.

Jadi, critanya nih, demi keinginan & kerinduan yang menggebu buat naik haji, si emak ini rela KAGAK GAJIAN selama 15 tahun! Trus, gajinya dikemanain? Hmm, majikan bu Aswati emang punya cara brilian buat 'menghadang' abdi dalemnya biar enggak dibajak majikan lain.

Jadilah, semua gaji Bu Aswati selama 15 tahun itu, disimpen oleh Majikannya dan... "Ntar uang gajian ini buat ongkos gaji kamu ya maakk..."

Bu Aswati manggut2. Dan, begitulah... Emak yang polos, lucu, grusa-grusu, dan kadang2 hobi mecucu ini satu kloter dengan kami.

Dan, semangatnya Bosss.... Beliau bener2 menjiwai setiap petualangan manakala bareng ke Masjidil Haram... Hepiii bangett... Yeah, karena emak mengumpulkan rupiah demi rupiah, rela kagak jajan, mengebiri semua keinginan duniawinya, demi sebuah tekad & semangat: NAIK HAJI.

Bu Aswatiii... daku malu kalo enggak bisa lebih baik dari dirimu...
Matursuwun udah jadi inspirasi yang kagak ada matinya yaa....

Bocah Kecil aja Naik Haji.....




Tanya: Kenapa lo blom naik Haji? Jawab: Yeah, gw kan blom wajib, duit gw blom banyak, secara gw juga masih muda, getoo... Ntar aja, gw naik haji kalo dah pensiun ajah...
Bwahahahaha...
Singkirkan paradigma dan excuse lo di atas. Yang namanya naik haji itu emang "wajib bagi yang mampu". Nah, kalo lo udah bisa beli Mobil, udah bisa beli rumah, apartemen, atau gadget yang na'udzubillah mahalnya, masak sih, lo ga brani nyisihin duit lo buat berangkat haji?

Lah, ntar kerjaan gw gimana?
Tenang aja, brur! Yang namanya kerjaan emang kagak ada abisnya. So, kalo lo menunda2 berangkat haji hanya karena kerjaan, itu gak ada bedanya dengan lo lebih semangat buat nurutin perintah bos lo--yang cuma bisa menggaji lo beberapa rupiah per bulan--dibandingin perintah Tuhan lo, yang jelas2 punya kendali dan otoritas penuh atas hidup lo.

Gw takut ntar gw dapat hukuman atau balasan gara2 tingkah laku gw yang pecicilan selama di tanah air... Ya'elahhh... Lo segitu negative thinking-nya sih ama Tuhan? Yang udah sayang banget sama lo? Yang udah kasih lo rejeki segambreng? Yang begitu cinta sama lo, walopun lo hobi nambah2in dosa? Justru, lo musti berangkat haji, supaya lo malu dan mikir2 kalo mau berbuat dosa, secara lo, udah ngelakuin rukun Islam...

Tapi, sholat gw masih bolong2... Gw juga ga konsisten bayar zakat.... Puasa juga males jaya... Gimana dong?
Ya sekarang waktu yang sip markosip untuk perbaiki semua kekurangan lo. Tetapkan niat untuk berhaji, langsung evaluasi dan koreksi semua kesalahan lo selama ini. Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Pemaaf, dan lo musti 'tahu diri' dengan gak membiarkan kelalaian lo berlangsung bertahun-tahun. Ya gak?

Ahhh... gw masih muda iniii....
Iyah, tapi lihatlah bocah2 ini. Mereka masih sangaaaaattt muda bangggeettttsss... dan mereka rela berdesak-desakan, menempuh perjalanan jauh, demi ibadah haji, bersama ortu mereka! Masak lo kalah seeehh?

Yang Muda, Yang Naik Haji


Lo pengin naik haji?
Kalo iya, cepetan lo pasang niat mulai sekarang.
Karena ternyata haji tuh paling asik dilakoni pas lo masih muda.

Hampir 90% ibadah haji itu, butuh fisiiiik banget
Bayangin, thowaf, lo kudu muterin Ka'bah sebanyak 7 putaran, trus, lanjut sa'i, lo musti berjalan antara bukit shofa dan marwah sebanyak 7 kali, blum lagi, --ini yang menurut gw paliiiing berat--- ANTRE BUSS!!!

Tau sendirilah, jamaah haji kan jumlahnya segambreng. Jadi, manakala lo kudu melakoni perjalanan antara tempat nginep lo (biasa disebut 'maktab') menuju let say, Masjidil Haram, maka lo kudu naik Bus gretongan yang disediain pemerintah. Namanya aja bus gretong, tak berbayar, jadi lo musti ikhlas dan siap lahir batin, buat desek-desekan dengan penumpang yang jumlahnya segambreng. Weikkss...

Daaannn...
Di hari2 awal gw ada di Mekka, sumpah, gw paliiingg anti-alergi-males untuk menjalani proses rebutan bus dan seterusnya... Mana kita ada di zona abu-abu... Katanya ibadah haji melatih kesabaran, harus toleransi, ga boleh main sikut sana-sikut sini, tapi, heii.. kalo lo ga agresif sama sekali, yg terjadi adalah, lo gak bakal mungkin dapat bus!

Pernah tuh, gw (karena lumayan yeah, agresif, asertif, dan kagak mau ngalah), gw bisa nungging dgn manisnya di dalam bus. Tapi, hei, ibu gw & abang gw, yang begitu sabar, ikhlas, ngalah, dst-nya, ketinggalan!! Wedew!

Gw jelas gak bisa turun, karena penumpang udah bejubel sampe ke pintu...
Tapi, gw kan wajib punya muhrim....
Jadi, yang terjadi kemudian adalah, gw bengong kayak orang bego (*lah, emangnya dari sononya bukannya bego ya mbak? Hweheheeh*) nungguin ibu & abang gw di terminal bus. Pff!

Nah, kalo udah bete-surete kaya begitu, yg gw lakoni adalah, ngamatin mas2 berkostum biru yang bertengger di seantero terminal bus. Awalnya, kasian juga ngeliat mereka saban menit, musti tereak2 ngasi tau penumpang rute & bus mana yang harus dinaiki... Tapi, lama2 gw salut lah, karena ternyata mereka berjassaaaaa banget...

Blom lagi, kalo mereka kudu memandu jamaah yang nyasar. Pheewww... kerjaan ekstra tuuh... Butuh kesabaran, energi dan hal2 remeh-tapi-penting lainnya.

Eniwei, tadinya gw kira mas2 berbaju biru ini adalah para TKI yang lagi cari ceperan di Arab. Mumpung musim haji, geto.. Tapi, setelah ngobrol dgn mereka, ternyata, mereka adalah Mahasiswa Al-Azhar University di Kairo, Mesir!! Cool...

Lagi musim haji, mereka musim liburan, dan para bocah ini--yang berusia antara seperempat abad-an-- bela2in kerja keras buat jadi petugas haji...

Two Thumbs Up deh!
Mana keren2 lagi... *hiks, kenapa gw gak haji pas masih single aja yak? Weehehehhe*

Nah, jadi, moral of the story adalah, Naik Hajilah as soon as possible!
Selagi lo masih muda...
Selagi lo masih kuat, sehat & berfisik prima...
Selagi lo masih sayaang banget ama harta lo....

Okey dokey, beib?